Hidup Itu Seperti Roda Pedati. Kisah Inspiratif Sahabat Nabi


Abu Sufyan bin Harb adalah tokoh pemimpin Quraisy, beberapa kali ia memobilisasi pasukan untuk konfrontasi senjata dengan kaum muslimin. Namun lambat laun ia dan pasukannya semakin lemah, pengaruhnya pun semakin berkurang. Alhamdulillah, di belakang hari ia dapat hidayah dan masuk Islam pada tahun ke 8 H. Keadaan pun berbalik, dari penentang menjadi pembela.

Disebutkan dalam kitab Rijal Wa Nisa' Haula Ar Rasul bahwa suatu saat Abu Sufyan membangun rumah yang ternyata berdampak merugikan bagi tetangganya. Setelah diadukan, khalifah Umar pun menyuruhnya untuk mengangkat sendiri batu-batu matrial bangunannya sebagai konsekwensi atas kesalahannya, walaupun sebelumnya ia sangat disegani oleh kaumnya.

Apa yang dialami oleh Abu Sufyan ini merupakan salah satu bagian dari roda kehidupan. Dulu ia yang mengatur dan memimpin, kemudian ia yang diatur bahkan disuruh-suruh. 

Maha benar firman Allah:

وَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ...

"Masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)..." (QS. Ali Imran: 140).

Ibarat kata orang Tapanuli: "Hidup itu seperti roda pedati, kadang di atas kadang di bawah."

Namun Abu Sufyan tetaplah orang yang lebih beruntung dari kita, karena ia telah menjadi muslim, sahabat nabi bahkan murid manusia paling mulia yaitu Rasulullah Muhammad SAW.

Beberapa Hikmah 
Ada beberapa hikmah yang bisa kita jadikan pelajaran dari kisah ini, antara lain:

1. Hidayah Allah itu menakjubkan, Dia berikan kepada orang yang Dia kehendaki dan kadang kepada orang yang tidak disangka-sangka oleh manusia. Maka jika ada seseorang yang kita harapkan dapat hidayah, tetaplah optimis dan berdoa supaya Allah menuntun hatinya.

2. Kepemimpinan dan ketokohan adalah anugerah Allah. Dia bisa mencabutnya kapan saja, secara perlahan2 atau tiba-tiba. Saat berkuasa seseoang bisa lebih leluasa, namun setelah kekuasaan dicabut ia adalah orang biasa. Maka jangan ujub, sombong apalagi sewenang-wenang.

3. Seberapa besar pun ketokohannya, jika salah maka harus siap dan ikhlas menerima konsekwensi dari yang berwenang sebagaimana halnya Abu Sufyan bin Harb. Terhindar dari konsekwensi dunia bukan berarti aman dari konsekwensi akhirat.

4. Pemimpin yang bijak selalu mendengarkan keluh kesah rakyatnya, memberikan kemudahan, solusi dan keadilan, meskipun mereka adalah orang-orang lemah yang tidak punya 'backingan' dari kalangan manusia.

https://youtube.com/shorts/IRntg_IoOHs?feature=share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen2nya yg damai2 aja ya Sist & Bro! Thanks.