Apakah Islam Mengajarkan untuk Mendiskriminasi Agama Lain?

Sebahagian orang non-muslim beranggapan bahwa ajaran Islam dalam kehidupan sosial bersifat diskriminatif terhadap orang-orang non-muslim. Munculnya anggapan ini kadang tidak terlepas dari tindakan ekstrim yang dilakukan oleh beberapa oknum muslim di beberapa tempat. Untuk menilai ajaran Islam bersifat diskriminatif atau tidak, tentu tidak cukup dengan hanya melihat prilaku ummatnya, namun harus dengan menelaah ajarannya. Jika ternyata antara prilaku dan ajaran ada kontradiksi, berarti yang salah bukanlah ajarannya, melainkan orangnya.

Kalau kita kembali kepada sejarah Rasulullah Muhammad Saw, bisa dikatakan tidak ditemukan tindak diskriminatif atas nama ajaran agama Islam terhadap pemeluk agama lain। Justru riwayat-riwayat shahih menunjukkan bahwa ummat Yahudi dan Nasrani dihormati di dalam masyarakat madani yang dibina oleh Nabi Muhammad Saw.; mereka diberikan kebebasan beribadah sesuai ajarannya dan menikmati hidup layaknya masyarakat muslim lainnya. Bahkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang bersumber dari Sayyidah Aisyah tentang penggadaian baju perang Nabi Muhammad Saw kepada seorang Yahudi Madinah di akhir hidup hingga wafatnya menjadi salah satu bukti kuat bahwa beliau juga melakukan interaksi yang baik dengan mereka. Ini merupakan salah satu bentuk aktualisasi dari firman Allah SWT:

"Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian dalam masalah agama dan juga tidak mengeluarkan kalian dari tanah air kalian. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil" (Al-Mumtahanah: 28).

Hadits dan ayat di atas jelas sekali menunjukkan bahwa anggapan ajaran Islam itu bersifat diskriminatif terhadap pemeluk agama lain adalah keliru. Kekeliruan ini tentu saja akan semakin kontras bila kita melihat dengan seksama hak-hak yang diberikan oleh Islam terhadap orang-orang non-muslim di tengah-tengah komunitas ummat Islam. Karena itu, disini saya akan mencoba menguraikannya beserta dalil yang berkaitan, di antaranya:

1. Mereka tidak dipaksa untuk memeluk agama Islam
Firman Allah SWT:

لاَ إِكْراهَ فىِ الدِّيْن قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَىِّ. سورة البقرة, آية 256

"Tidak ada paksaan dalam (memasuki) agama Islam, sungguh telah jelas antara petunjuk dan kesesatan" (QS. Al-Baqarah: 256).
Imam Ibnu Jarir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan seorang sahabat yang bernama Hushain, yang mempunyai dua orang anak yang beragama Nasrani (Kristen). Dia bertanya kepada Nabi Muhammad Saw: "Apakah saya harus memaksa mereka (masuk Islam)? Mereka hanya mengiginkan agama Nasrani." Lalu turunlah ayat tersebut.

Karena itu, kalau kita melihat lembaran sejarah perkembangan Islam di masa Nabi Muhammad Saw dan khulafaurrasyidin sesudahnya, kita tidak akan menemukan adanya bukti pemaksaan seseorang untuk memeluk agama Islam. Seandainya itu ada, tentu saja riwayat penggadaian baju perang nabi Muhammad Saw di akhir hayatnya tidak akan pernah terjadi dalam kehidupan nyata, sebagaimana tidak akan ada juga kisah seorang Yahudi buta yang setiap hari diberi makan dan disuapi oleh Nabi Muhammad di pojok pasar Madinah hingga menjelang hari wafatnya.

Barangkali terdetik sebuah pertanyaan, "lalu mengapa ada ayat perintah perang?" Pemahaman yang baik dan benar terhadap Al-Qur'an menjelaskan bahwa ummat Islam tidak diperintahkan berperang kecuali terhadap kelompok yang memeranginya, dan kenyataannya dalam sejarah nabi Muhammad Saw. memang demikian.

2. Kebebasan menjalankan agama mereka

صالح رسول الله صلى الله عليه وسلم أهل نجران... على أن لا تهدم لهم بيعة ولا يخرج لهم قس ولا يفتنوا عن دينهم. رواه أبو داود

"Rasulullah Saw. melakukan perdamaian dengan penduduk Najran… rumah ibadah mereka tidak boleh dihancurkan, pemimpin agama mereka tidak diusir dan tidak dibujuk untuk meninggalkan agamanya." (HR. Abu Daud).

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, seorang ulama madzhab Hanbali menyebutkan: "Para ulama mengatakan bahwa Apabila seorang isteri yang non-muslimah ingin memasukkan tanda salib ke rumahnya, maka suaminya tidak boleh melarangnya…." (lihat kitab Ahkamudzdzimmah karangan Ibnul Qayyim).

3. Berbaur dan berinteraksi sosial dengan masyarakat muslim
Termasuk di dalamnya dalam hal sedekah, jual beli, tempat tinggal, mengunjungi yang sakit, menghadiri jenazah dan sebagainya.

Anas ra. berkata: "Ada seorang anak muda Yahudi yang menjadi pembantu Nabi Muhammad Saw. Lalu (suatu saat) dia sakit. Nabi Muhammad Saw. pun menjenguknya dan duduk di samping kepalanya. Beliau bersabda: 'Islamlah'. Anak muda itu menoleh ke ayahnya, si ayah berkata: 'Turutilah Abul Qasim (Nabi Muhammad Saw).' Dia pun masuk Islam. Lalu beliau keluar sambil berucap: 'Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka'" (HR. Bukhari).

4. Jiwa, harta dan harga diri mereka dihormati

من قتل معاهدا لم يرح رائحة الجنة وإن ريحها توجد من مسيرة أربعين عاما. صحيح البخارى.

"Barang siapa yang membunuh seorang mu'ahid (orang non-muslim yang mempunyai perjanjian damai dengan Islam), dia tidak mencium bau surga. Dan sesungguhnya baunya bisa tercium dari jarak 40 tahun perjalanan" (HR. Bukhari).

Abul A'la Al-Maududi mengatakan: "Ahludzdzimmah (non-muslim yang berada di bawah pemerintahan Islam) tetap memiliki tanah mereka dan diwariskan kepada pewarisnya. Adalah hak mereka untuk mengelolanya; menjual, memberikan dan menggadaikannya…" (Huquq Ahli adz-Dzimmah fi ad-Daulah al-Islamiyah).

Imam Malik pernah ditanya tentang menggibah (menyebut-nyebut aib) orang Nasrani. Beliau balik bertanya: Bukankah dia juga manusia? Jawab penanya: Ya. Beliau berkata: Sesungguhnya Allah berfirman: "…dan katakanlah kepada manusia yang baik-baik."

5. Menikmati fasilitas-fasilitas umum dan pemerintahan
Ini bisa dikiyaskan pada hak yang diberikan oleh Baitul Mal (gudang pemerintah) kepada mereka.

Disebutkan di dalam riwayat Abu Sufyan bahwa suatu saat khalifah Umar bin Khattab bertemu dengan seorang pengemis tua Yahudi. Setelah memberinya sesuatu, dia berkata kepada petugas Baitul Mal: Lihat orang ini dan pajak yang dia berikan. Demi Allah, kita sudah tidak adil kepadanya; kita memanfaatkan masa mudanya tetapi kita menelantarkannya di masa tua."

Pada masa Khalid bin Walid, orang-orang dhuafa' non muslim juga ditanggung oleh Baitul Mal Islam.

6. Dialog keagamaan dengan mereka harus dengan cara yang baik

ولا تُجادِلُوا أهلَ الْكِتابِ إلاّ بِالـَّتِى هِىَ أَحْسن إلاّ الذين ظَلمُوا مِنهم وقولوا آمنا بالذى أُنزلَ إلينا وأنزل إليكم وإلهنا وإلهكم واحد ونحن له مسلمون. العنكبوت, آية 46.

"Dan janganlah kalian berdebat dengan ahli kitab kecuali dengan cara yang paling baik, kecuali orang-orang yang aniaya di antara mereka. Dan katakanlah: kami beriman kepada yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada kalian, Tuhan kami dan Tuhan kalian hanyalah satu, dan kami berserah diri kepada-Nya." (QS. Al-'Ankabut: 46).

7. Orang yang tidak memerangi Islam di antara mereka tidak boleh diperangi.
Firman Allah SWT:

"Dan perangilah di jalan Allah orang-oran yang memerangi kalian dan janganlah melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas" (QS. Al-Baqarah: 190).

Sekilas ayat ini memang perintah perang, tetapi jangan lupa bahwa perang disini hanya kepada orang-orang yang memerangi Islam. Adapun mereka yang tidak memerangi, Islam jelas-jelas melarang memerangi mereka.

Inilah di antara nasehat yang sering Rasulullah sampaikan kepada pasukannya: jangan membunuh orang-orang lemah, anak-anak, wanita, orang tua dan kaum lemah lainnya. Buku-buku Fiqih Islam sebagai penafsir Al-Qur'an dan Hadist juga menyebutkan tidak bolehnya membunuh orang-orang yang menjauhi medan perang dan tidak terlibat di dalamnya.

8. Dan lain sebagainya.

Dari uraian singkat tersebut, jelas sekali bahwa Islam adalah agama yang cinta damai. Hanya saja kadang kita temui di antara ummatnya orang-orang yang tidak paham betul tentang ajaran Islam. Semoga tulisan ini bermanfaat.
Wallahu a'lam…
Selengkapnya...

Heraclius Buka Mulut Soal Nabi Muhammad Saw

Kaisar Heraclius mencium kabar seorang pria tanah Hijaz yang mengaku sebagai Rasul utusan Tuhan semesta alam. Kabar tersebut menyimpan rasa penasaran di dalam hatinya. Dia mengirim utusan untuk mengundang sekelompok kafilah Arab yang sedang berdagang di Syam, daerah kekuasaannya. Kebetulan saja kafilah tersebut adalah penentang keras ajaran Rasul ini, yang salah satunya adalah Abu Sufyan bin Harb.

Sang Kaisar mempersilahkan mereka masuk ke dalam sebuah majelis yang dihadiri oleh pembesar-pembesar Romawi. Seorang penerjemah siap menghubungkan komunikasi mereka.

"Siapa di antara kalian yang nasabnya paling dekat dengan pria yang mengaku nabi itu?" tanya Heraclius.
"Saya yang nasabnya paling dekat," jawab Abu Sufyan.
Heraclius menyuruhnya beserta kafilah lain untuk mendekat dan menjadikanya di posisi paling depan.
"Saya akan bertanya tentang nabi tersebut kepada orang ini, kalau dia berbohong, kalian harus mengatakannya," kata Heraclius kepada kafilah tersebut.
Heraclius pun memulai pertanyaannya, "Bagaimana nasab pria tersebut di antara kalian?"
"Dia orang yang punya nasab," jawab Abu Sufyan.
"Apakah di antara kalian ada orang yang berkata seperti ini sebelumnya?"
"Tidak"
"Apakah di antara kakeknya ada yang menjadi raja?"
"Tidak"
"Para pengikutnya dari kalangan bangsawan atau kaum lemah?"
"Justru kaum lemah"
"Apakah mereka bertambah atau berkurang?"
"Bahkan mereka bertambah."
"Ada yang murtad karena rasa benci setelah memeluk agamanya?"
"Tidak"
"Pernahkah kalian menuduhnya berbohong sebelum dia mengaku nabi?"
"Tidak"
"Dia pernah melanggar janji?"
"Tidak. Dan kami sedang dalam perjanjian dengannya. Kami tidak tahu apa yang akan dia lakukan"
"Apakah kalian memeranginya?"
"Ya"
"Bagaimana perang kalian?"
"Berimbang. Dia (mampu) memukul mundur kami, dan kami juga"
"Dia menyuruh apa pada kalian?"
"Menyembahlah hanya kepada Allah, jangan berbuat syirik pada-Nya sedikit pun, tinggalkan apa yang dikatakan oleh para orangtua kalian. Dia juga menyuruh kami untuk shalat, berzakat, jujur, menghindari yang tidak baik dan menjaga hubungan kerabat."

Semua pertanyaan telah disampaikan dan dijawab. Namun Kaisar Heraclius tidak membiarkan tamu-tamunya pergi dengan membawa rasa penasaran. Dia pun menjelaskan maksud semua pertanyaannya satu persatu.

"Tadi saya bertanya tentang nasabnya. Lalu engkau menyebutkan bahwa dia memiliki nasab. Begitu juga halnya para Rasul, mereka diutus di tengah nasab kaumnya.
Saya bertanya: Apakah di antara kalian ada orang yang berkata seperti ini? Kau jawab: tidak ada. Andaikan ada, saya akan mengatakan: Dia seorang pria yang meniru ucapan orang sebelumnya.

Kau menjelaskan juga dia bukan dari keturunan raja. Andaikata ya, saya akan mengatakan: dia ingin mengembalikan kerajaan ayahnya.
Pertanyaan saya: Pernahkah kalian menuduhnya berbohong sebelum dia mengaku nabi? Jawabanmu: tidak. Saya tahu (kata Heraclius), kalau dia berbohong kepada manusia dia akan berbohong kepada Allah.

Saya bertanya tentang para pengikutnya, apakah dari kalangan bangsawan atau kaum lemah? Kau mengatakan dari kaum lemah. Memang, mereka adalah pengikut para Rasul.
Engkau katakan mereka bertambah. Bagitulah masalah iman hingga sempurna.
Engkau menyebutkan mereka tidak ada yang murtad. Begitulah iman di saat cahayanya menyentuh hati.

Saya bertanya: apakah dia pernah melanggar janji? Engkau jawab tidak. Rasul memang tidak melanggar janji.

Saya juga menanyakan apa yang dia suruh. Engkau menjelaskan dia menyuruh agar kalian hanya menyembah kepada Allah, jangan berbuat syirik pada-Nya sedikit pun, dia melarang kalian menyembah berhala, Dia juga menyuruh kalian untuk shalat, jujur, dan menghindari yang tidak baik.

Kalau yang kau katakan ini benar, – kata Heraclius – maka dia akan menguasai tempat saya berpijak ini. Dan saya yakin, dia pasti akan keluar. Saya tidak mengira ternyata dia berasal dari kalian. Andai saya sampai padanya, saya akan sibuk menemuinya. Dan seandainya saya ada di sampingnya, saya akan mencuci telapak kakinya."

Usai menjelaskan semuanya, Heraclius lalu membacakan sebuah surat nabi Muhammad Saw:
"Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Dari Muhammad hamba Allah dan rasul utusan-Nya, kepada Heraclius pembesar Romawi.
Damai sejahtera bagi yang mengikuti petunjuk. 'Amma ba'du': Saya mengajak Anda kepada panggilan Islam. Islamlah niscaya engkau akan selamat, Allah memberi ganjaran pahalamu dua kali lipat. Namun jika engkau berpaling, maka engkau akan menanggung dosa rakyat. [Wahai ahli kitab, marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kalian, bahwa kita tidak menyembah selain Allah, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun dan kita tidak menjadikan satu sama lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), "Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang muslim]."

*Kisah ini terdapat di kitab Shahih Bukhari, vol. 7.
Selengkapnya...

Puasa, Introspeksi Iman dan Bangsa Yang Makmur

Di dalam Al-Qur'an, Allah SWT mengajak manusia agar senantiasa melakukan dzikir (mengingat Allah), tadzkkur (introspeksi dan mengambil pelajaran) dan tadzkiir (mengingatkan). Dengan mengaktualisasikannya seorang mukmin akan menyadari terus hakekat-hakekat keimanan yang harus dijaga. Di antara ayat yang menjadi isyarat terhadap ajakan ini adalah firman Allah SWT;
1. Tentang zdikir:
(فاذكــُــــــرُونى أذكـــُركــُــــم (البــقرة: 152
Artinya:
"Ingatlah Aku, niscaya Aku akan mengingat kalian." (QS. Al-Baqarah: 152)2. Tentang Tadzakkur:
(إنمــــا يتـَــذكــَّـــرُ أولـــو الأباب (الرعد: 19
Artinya:
"Hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran." (QS. Ar-Ra'd: 19)
3. Tentang Tadzkiir
(وذَكــِّـرْ فإن الذكرى تنغع المؤمنين (الذاريات: 55
Artinya:
"Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin." (QS. Azd-Dzariyat: 55)
Dalam memenuhi tiga petunjuk Rabbani di atas, ibadah puasa memiliki peran yang sangat penting.
Ibadah puasa sudah sejatinya dilakukan oleh seorang mukmin sesuai syarat, rukun dan adab-adabnya sehingga tujuan di balik pelaksanaannya bisa dicapai dan buah keimanan yang dikandungnya bisa dipetik. Memang tidak semua orang yang berpuasa bisa merealisasikan tujuan dan hasil yang diharapkan. Yang bisa untuk itu hanyalah orang-orang yang mengamalkan petunjuk Nabi Muhammad Saw.: "Puasa itu bukan (semata-mata) menahan diri dari makan dan minum, tapi puasa itu menahan diri dari perkataan yang sia-sia dan perbuatan maksiat."
Untuk itu, beliau Saw menasehati orang yang berpuasa: "Jika seseorang mencaci atau meremehkan engkau, maka katakana padanya: Saya sedang puasa, saya sedang puasa."
Cacian merupakan sebuah contoh konkrit yang kadang menguji kesabaran seseorang. Orang yang tidak sabar menghadapi cacian akan membalasnya dengan cacian yang sama atau bahkan yang melebihi. Dan ini tidak boleh. Mencaci atau membalas cacian masuk dalam kategori perbuatan tidak terpuji yang dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahala puasa.
Ucapan orang yang puasa "Saya sedang puasa, saya sedang puasa " merupakan bagian dari introspeksi iman (tadzkir imany). Ketika ucapan tersebut bersumber dari hati, berarti dia sedang melakukan ketaatan karena Allah SWT., mengingat-Nya dan menyadari bahwa dia sedang berada dalam pengawasan-Nya (dzikir).
Dari sini, introspeksi iman dan ingat kepada Allah SWT mengarahkan orang yang berpuasa kepada sebuah 'azam untuk tetap berbudi pekerti yang baik dan menjauhi setiap perilaku tercela (tadzakkur), sebagaimana yang diisyaratkan dalam sabda Nabi: "… puasa itu menahan diri dari perkataan yang sia-sia dan perbuatan maksiat."
Jika mencaci dan membalas cacian merupakan bagian dari perbuatan tidak terpuji, maka dalam menyikapi godaan dari semua perbuatan yang berlabel tidak terpuji lainnya – lebih-lebih maksiat dan larangan-larangan yang termaktub dalam Al-Qur'an dan sunnah – semestinya orang yang berpuasa kembali pada koridor iman dan melakukan introspeksi diri.
Dengan mengamalkan tiga ajakan Tuhan tadi, seorang pedagang yang punya peluang besar untuk melakukan kecurangan dengan cara berbohong atau mengurangi timbangan tentunya akan lebih mampu untuk mengendalikan diri. Setiap hawa nafsu mengajaknya melakukan peenipuan, hatinya mengingatkan bahwa dia sedang berpuasa dan Allah selalu mengawasi gerak-geriknya, akal pikirannya juga mempertimbangkan sebuah konsekuensi hilangnya pahala puasa dan keberkahan usaha. Di matanya, materi duniawi hanyalah perkara kecil jika dibandingkan dengan ganjaran besar yang akan diberikan Allah kepadanya nanti. Kesadaran yang disertai iman ini pun membimbing dia kepada sifat qana'ah; merasa puas dan cukup dengan rizki yang halal, dan menahan dia dari tindakan yang merugikan orang lain. Dia beruntung orang lain juga diuntungkan. Dengan demikian, usaha dagangnya ini telah mengandung nilai plus ibadah.
Lazimnya demikian juga setiap mukmin pada semua aktivitas, organisasi, perkantoran pemerintahan, dan lapangan usaha lainnya. Interaksi sosial yang bagaimana lagi yang paling efektif dalam memabangun sebuah bangsa selain interaksi simbotik yang berasakan keimanan dan ketakwaan!? Kalau saja setiap elemen bangsa mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari, insya Allah cita-cita "baldatun thayyibah wa Rabbun Ghafuur"; (Negara makmur dan diridoi Tuhan) akan bisa terwujudkan.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ.... (الأعراف: 96)
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…" (Al-A'raf: 96)
(Wallahu a'lam)
Selengkapnya...

Taushiyah Ramadhan ; Puasa Sebagai Tarbiyah Rabbaniyah

Kewajiban puasa di bulan Ramadhan merupakan salah satu bentuk tarbiyah (pendidikan) dari Allah SWT. bagi hamba-hamba-Nya yang beriman agar mereka menjadi manusia yang bertaqwa sebagaimana yang disebutkan di dalam QS. Al-Baqarah ayat 183: "…agar kalian bertaqwa."

Diantara bentuk-bentuk tarbiyah pada bulan ini; pada saat berpuasa kesabaran, kejujuran keikhlasan dan kesungguhan manusia diuji dalam memenuhi perintah Allah SWT. Puasa menuntut kesabaran; sabar menahan emosi, lapar dan dan dahaga, menjaga diri dari segala perkataan dan perbuatan yang merusak puasanya. Tanpa itu seseorang tidak akan bisa melakukan puasa dari waktu fajar sampai matahari tenggelam di ufuk barat,

Puasa melatih kejujuran. Dalam berpuasa, hanya Allah SWT dan diri sendiri yang tahu persis apakah dia masih puasa atau tidak. Orang yang makan di tempat yang sunyi bisa saja mengaku puasa di depan orang lain, dan mereka tidak tahu yang sebenarnya, namun Allah SWT dan dirinya sendiri tidak bisa dibohongi. Allah SWT Mahamelihat dan Mahamengetahui. Karena itu, yang bisa melakukan puasa hanyalah orang-orang yang ikhlas, sungguh-sungguh karena Allah SWT dan merasakan kehadiran-Nya. Dan hanya orang-orang yang jauh dari sifat riya' jugalah yang melakukannya. Itulah sebabnya ganjaran puasa itu sangat besar. Dan inilah yang diisyaratkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

"Dia (hamba) meninggalkan makanan, minuman dan syahwatnya karena Aku. Puasa itu untuk-Ku, Aku-lah yang akan membalasnya. Dan kebaikan itu sepuluh kali lipat."
Dalam hadits lain Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. رواه البخارى ومسلم

"Siapa yang puasa pada bulan Ramadhan karena iman dan harapan (pahala), niscaya diampunkan dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Muslim).
Jika pun ada orang yang berpuasa dengan riya', itu merupakan sebuah kebodohan; sudah tidak dapat pahala, lapar lagi! Sementara pujian yang diperoleh dari orang lain tidak juga pernah 'mengenyangkan'.

Di sisi lain ganjaran yang besar dari Allah SWT memotivasi mereka untuk beramal ibadah, saling memperhatikan dan menebar kebaikan terhadap sesama manusia.
Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. رواه مسلم

"Barang siapa yang mendirikan bulan Ramadhan (dengan ibadah) karena iman dan harapan (pahala), niscaya diampunkan dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Muslim).

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا. رواه ابن ماجه

"Barang siapa memberi makanan berbuka bagi orang yang puasa, baginya sebesar pahala mereka (yang diberi bukaan) tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala mereka." (HR. Ibnu Majah).

Dalam sebuah riwayat disebutkan: Suatu ketika sahabat Anas bertanya kepada Rasulullah Saw: ''Ya Rasulullah, kapankah sedekah paling baik dilakukan?'' Rasul menjawab: ''Sedekah yang paling baik adalah sedekah di bulan Ramadhan.'' (HR Tirmidzi).

Ibnu Abbas ra. Juga meriwayatkan: Rasulullah Saw sangat dermawan terlebih saat bulan Ramadhan, kedermawanan beliau ibarat angin yang berhembus.

Namun demikian, walau setiap amal baik dijanjikan pahala yang sangat besar, amal tersebut tidak akan bisa terlaksana dengan baik tanpa adanya kesabaran dan keikhlasan. Sabar dan ikhlas inilah yang menjadi modal utama setelah iman untuk mencapai tingkat taqwa.

Kenapa taqwa yang menjadi target? Sebab dalam taqwa ada loyalitas kepada Tuhan. Loyalitas inilah yang akan membawa manusia kepada kebahagiaan yang sesungguhnya. Wallahu a'lam.
Selengkapnya...