Jumlah Pasti Nama-nama Al Qur'an


Pengertian Al Qur’an




Menurut Ragib Al Ishfahani, lafazh القرآن (Al Qur’an) merupakan bentuk masdar, seperti halnya lafazh كفران dan رجحان. Al Qur’an telah telah dikhususkan sebagai nama kitab yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw.[1]


Adapun pengertian Al Qur’an secara istilah menurut kalangan ahli ilmu kalam  adalah firman Allah SWT, dan firman Allah itu bersifat qadim, bukan makhluk[2]

Selengkapnya...

Mukjizat Al Qur’an sebagai Obat Penyembuh; Tafsir QS. Al Isra’: 82

Salah satu di antara sekian banyak mukjizat Al Qur'an yang sudah terbukti sejak diturunkannya hingga saat ini adalah bisa menjadi obat penyembuh.

Kemukjizatan Al Qur'an ditegaskan dalam firman Allah SWT:
 

وننَزِّلُ مِنَ القرآنِ مَا هُوَ شفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّـلْمُؤْمِنِيْنَ، وَلاَ يَزيْدُ الظالِمِيْنَ إلاَّ خَساراً

Selengkapnya...

Debat Tentang Keberadaan Tuhan; Tukang Cukur Atheis vs Pelanggan

“Saya gak percaya Tuhan itu ada” kata tukang cukur pada pelanggannya.

“Kok bisa ngomong kayak gitu???” si pelanggan terheran-heran.

“Ok, hanya dengan turun ke jalanan kamu akan tau Tuhan itu gak ada. Coba jawab, jika Tuhan memangg ada, kenapa masih ada orang-orang yang sakit??? Kenapa juga banyak anak-anak yang terrlantar???”

Si pelanggan diam.

“Kalau Tuhan itu ada, tentu gak bakalan kamu temukan kepedihan dan penderitaan seperti itu. Saya gak habis pikir, kok tega2nya Tuhan yg sangat Penyayang membiarkannya”

Si pelanggan 'mikir, namun masih tetap diam.

Setelah rambutnya rapi dan membayar uang jasa, segera ia keluar menuju jalan raya. Eh…, ketemu seorang pria berambut gondrong, acak-acakan, jenggotnya memanjang berantakan, pakaiannya juga kumal dan kotor. Ia pun kembali ke barber…

“Tau gak, tukang cukur itu gak akan pernah ada?!”

“Lho,,, kok bisa ngomong gitu?!?” si tukang cukur bingung melihat pelanggannya, “padahal saya baru saja nyukur rambutmu!”

“Kalau tukang cukur memang ada, tentu saya gak bakalan ketemu orang seperti itu” sambil menunjuk ke arah pria kumal.

“Tp tukang cukur itu kan eksis! Kalau ada orang seperti itu, itu karna dia gak datang ke saya!” Seakan ingin menyadarkan pelanggannya.

“Betul sekali, begitu juga dengan Tuhan… Dia benar2 ada. Kepedihan dan penderitaan terjadi karena manusia tidak datang pada-Nya di saat membutuhkan!”

“??@?#?$?*?”

Selengkapnya...

Tanggapan Ibn Rusyd Terhadap Imam Al Ghazali Terkait Pengkafiran Filosof

Imam Al Ghazali dalam bukunya Tahafut al Falasifah telah memberikan kritik yang sangat keras terhadap para filosof dan mengkafirkan mereka terkait pendapat qidam-nya alam, Tuhan tidak mengetahui rincian peristiwa yang ada di alam, dan tidak adanya kebangkitan bagi jasad manusia.

Sehubungan dengan pengkafiran tersebut , Ibn Rusyd tampil membela para filosof. Pembelaan ini ia tulis dalam bukunya Tahafut al Tahafut. Bukunya ini menjelaskan bahwa para filosof tidak keliru terkait tiga permasalahan yang dituduhkan Imam Al Ghazali, namun Imam Al Ghazali-lah sebenarnya yang keliru. Berikut uraian tanggapan Ibn Rusyd terhadap Imam Al Ghazali.

1. Tentang Qadim-nya Alam
Ibn Rusyd sepakat dengan para filosof bahwa mengadakan sesuatu dari sesuatu yang tidak ada (creation ex nihilio) mustahil terjadi. Al ‘adam (ketiadaan) tidak mungkin berubah menjadi al wujud (ada). Yang mungkin terjadi adalah “al wujud” berubah menjadi “al wujud” dalam bentuk yang lain.

Menurut Ibn Rusyd, pendapat Imam Al Ghazali tentang “penciptaan sesuatu dari ketiadaan” tidak didukung oleh dalil syari’at yang memadai. Tidak ada dalil al Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah pada mulanya berwujud sendiri, dengan kata lain tidak ada wujud selain diri-Nya, baru kemudian alam diciptakan. Pendapat ini – kata Ibn Rusyd – hanyalah pendapat dan hasil interpretasi kelompok teolog.

Ada beberapa dalil ayat al Qur’an yang dipakai oleh Ibn Rusyd untuk mendukung pendapatnya di atas, antara lain:

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di anatar kamu yang lebih baik amalnya (QS. Hud: 7)

Ayat ini menurut Ibn Rusyd menjelaskan bahwa masa, tahta dan wujud air telah ada sebelum diciptakannya langit dan bumi oleh Allah SWT.

Ayat berikutnya adalah firman Allah SWT:

ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ

Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap (QS. Fushshilat: 11)

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّـمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَـقْنَاهُمَا وَجَعَـلْنَا مِنَ الْمَاء كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ " (الأنبياء: 30(

Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak beriman? (QS. Al Anbiya’: 30)

Ayat-ayat ini mengisyaratkan bahwa penciptaan langit dan bumi adalah dari sesuatu yang telah ada (air atau uap), bukan dari sesuatu yang tidak ada.

2. Masalah Pengetahuan Allah
Pernyataan bahwa Allah tidak mengetahui rincian sesuatu dan peristiwa di alam ini telah mendapat kritik keras dari Imam Al Ghazali. Ia menganggap pernyataan ini dapat membawa kepada kekufuran.

Kritik ini ditanggapi oleh Ibn Rusyd dengan mengatakan bahwa Imam Al Ghazali dalam hal ini sebenarnya salah paham. Menurutnya tidak ada filosof yang pernah mengatakan pernyataan tersebut. Yang ada adalah pendapat mereka bahwa pengetahuan Allah tentang rincian peristiwa-peristiwa di alam ini berbeda dengan pengetahuan menusia. Jadi, munculnya pertentangan Imam Al Ghazali dan filosof adalah karena penyamaan pengetahuan Allah SWT dengan pengetahuan manusia. Manusia mengetahui rincian sesuatu dan peristiwa melalui bantuan panca indera, dengan panca indera ini juga pengetahuan manusia berubah dan berkembang sesuai dengan penginderaannya.

Selanjutnya Ibn Rusyd menjelaskan bahwa Allah juga mengetahui rincian semua kejadian semenjak jaman azali, sekecil apa pun. Pengetahuan-Nya tidak terbatas oleh masa lalu, sekarang atau pun yang akan datang.

3. Masalah Kebangkitan Jasmani
Imam Al Ghazali di dalam bukunya Tahafut al Falasifah telah menggugat dan mengkafirkan para filosof yang mengingkari kebangkitan jasad manusia. Menurutnya, ini bertentangan dengan aqidah ummat Islam. Ayat-ayat Al Qur’an juga dengan tegas menyatakan bahwa manusia akan merasakan kenikmatan jasmani di surga, atau kesengsaraan jasmani di neraka.

Menanggapi vonis Imam Al Ghazali ini, Ibn Rusyd mengatakan bahwa tidak semua filosof mengingkari kebangkitan. Hanya saja mereka yang meyakini adanya kebangkitan terbagi dua; ada yang mengatakan kebangkitan hanya dalam bentuk rohani, yang lainnya mengatakan rohani dan jasmani.

Ibn Rusyd sendiri lebih condong pada pendapat pertama. Sebab jasad manusia yang ada di dunia telah hancur lebur, dan tidak mungkin dapat dikembalikan lagi seperti semula. Namun ia juga tidak menafikan adanya kemungkinan jasad dan rohani dibangkitkan secara bersamaan. Jika pun itu terjadi, jasad tersebut bukanlah jasad yang ada di dunia, melainkan jasad yang baru.

Di sisi lain, Ibn Rusyd menilai adanya pertentangan pendapat Imam Al Ghazali dalam masalah kebangkitan. Di dalam Tahafut al Falasifah ia mengatakan bahwa kebangkitan terjadi dalam bentuk jasad dan ruh secara bersamaan. Tetapi pada kesempatan lain di buku yang berbeda ia mengatakan bahwa kebangkitan bagi kaum sufi hanya terjadi dalam bentuk rohani saja, tanpa jasmani. Sejarah menunjukkan bahwa Imam Al Ghazali di penghujung hayatnya sebagai seorang sufi. Dengan demikian ia dinilai telah membatalkan gugatannya terhadap para filosof.

Referensi:
- Al Ghazali, Tahafut al Falasifah, editor Sulyman Dunya, Cairo: Dar al Maarif, tanpa tahun.
- Ibn Rusyd, Tahafut al Tahafut, editor Sulyman Dunya, Cairo: Dar al Maarif, 1964.
- Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2013
Selengkapnya...