Al-Qur'an Katanya Keren, Tapi Kok Ummatnya Terbelakang?

Al-Qur’an memang sangat unik. Tidak ada kitab referensi agama yang sekomplit Al-Qur’an. Isinya tidak hanya menjelaskan masalah ke-Tuhan-an dan urusan ibadah. Al-Qur’an, selain berisi petunjuk keimanan juga mengandung petunjuk kehidupan yang universal; urusan pakaian, makanan, pergaulan dan etikanya, undang-undang sipil dan negara, petunjuk-petunjuk ilmiah, dan lainnya.
Namun dari sini kemudian timbul pertanyaan; Kalau memang Al-Qur’an sekomplit itu, lalu mengapa negara-negara yang mayoritas berpenduduk ummat Islam tidak lebih maju dari negara-negara lain? Mengapa IPTEK mereka terbelakang?
Untuk mengetahui faktor keterbelakangan ummat Islam, saya akan menjawab dari dua sisi; Pertama faktor dari luar, dan yang kedua faktor dari dalam Islam sendiri.
Namun sebelum membahas faktor keterbelakangan ini, agaknya perlu kita hilangkan anggapan bahwa ummat Islam selalu menempati posisi terbelakang. Karena itu mari sejenak kembali ke sejarah. Sejarah telah mencatat bahwa peradaban Islam pernah memimpin 2/3 dunia selama berabad-abad, mulai dari Indonesia Timur hingga daratan Andalusia (sekarang Spanyol); bangunan-bangunan megah peninggalan dinasti-dinasti Islam di India, Pakistan, mesjid pertama di Cina, Damaskus, Bagdad, Cairo, Spanyol, dan lain sebagainya merupakan sedikit di antara bukti kemajuan peradaban Islam jaman dahulu.
Dalam sejarah peradaban ummat Islam yang berabad-abad itu, ilmu pengetahuan dan sains digalakkan. Ribuan tokoh muslim lahir menyeka kegelapan dengan cahaya ilmu pengetahuan. Avisenna hadir dengan filsafat dan ilmu kedokterannya, Ibnu Batutah dengan catatan penjelajahan dunianya sebelum Cristoper Colombus, Al-Jabar dengan teori matematika Aljabarnya, Averose dengan pemikiran dan filsafatnya, dan lain sebagainya.
Puncak kejayaan ilmu pengetahuan terjadi pada masa pemerintahan khalifah Harun Ar-Rasyid dari dinasti Abbasiyah.
Melihat kemajuan ini, raja-raja Eropa merasa tertarik untuk mengutus delegasi-delegasi pelajarnya ke Cordova, pusat dinasti Islam di Spanyol saat itu. Prancis misalnya, pernah mengutus 700 pelajar ke Cordova. Sehingga Eropa yang ‘gelap’ pun menjadi tercerahkan. Dari sini lahirlah semangat renaisens yang menjadi spirit kebangkitan Eropa pada fase-fase berikutnya secara bertahap.
Namun sayangnya, setelah Eropa keluar dari kegelapan, ummat Islam disapu bersih dari daratan Spanyol. Tidak sampai disitu, mereka juga melakukan ekspansi ke dunia timur termasuk negara-negara mayoritas muslim seperti Indonesia untuk tujuan 3 G; Gospel (penginjilan), Gold (emas dan kekayaan) dan Glory (kejayaan). Nah, disini Eropa tidak melakukan pencerahan sebagaimana yang dilakukan oleh dinasti Islam di Eropa sebelumnya. Justru yang sering terjadi adalah praktek kerja paksa, pembodohan, adu domba antar penguasa, menutup perhatian terhadap pendidikan, dan lain-lain.
Tentu saja ini semua menghambat pola pikir dan kemajuan dunia timur.

Kembali ke faktor keterbelakangan ummat Islam tadi.
Pertama, faktor dari luar. Dari penjelasan singkat di atas dapat kita ambil satu poin faktor keterbelakangan ummat Islam, yaitu ekspansi Eropa ke dunia Timur Islam.
Selain Eropa, pasukan Mongol di bawah pimpinan Jengis Khan juga pernah melakukan ekspansi besar-besaran ke pusat dinasti Abbasiyah di Bagdad.
Dalam ekspansi besar-besaran ini, terjadi pembakaran buku-buku karya ilmiyah yang sangat bernilai dalam peradaban ummat Islam. Karena banyaknya buku-buku yang dibakar ini, sampai-sampai ada yang mengatakan sungai Efrat berubah menjadi warna tinta.
Faktor yang kedua, dari dalam Islam sendiri. Perlu dicermati bahwa kebangkitan ummat Islam pada jaman dahulu tidak lain karena mereka mengaktualisasikan nilai-nilai ajaran Al-Qur’an dan Hadits secara komprehensif. Ajaran Al-Qur’an tidak diambil setengah-setengah. Motivasi belajar, mengajar dan berpikir, petunjuk-petunjuk ilmiah, nilai keadilan dan kebaikan, perintah dan larangannya, tuntunan ibadahnya, semuanya mereka aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Sangat berbeda dengan fenomena ummat Islam sekarang yang sudah semakin jauh dari Al-Qur’an dan Hadits. Nilai-nilai Al-Qur’an yang menjadi faktor pendukung kemajuan peradaban dan IPTEK telah banyak yang luput dari perhatian. Mereka sudah lebih condong untuk memperhatikan nilai-nilai ajaran Al-Qur’an dari sisi ibadah. Sehingga Al-Qur’an sering terkesan hanya sebagai kitab ibadah yang berhubungan dengan Tuhan saja.
Lebih spesifiknya tentang faktor keterbelakangan ummat Islam dari dalam adalah sebagai berikut:
1. melemahnya aktualisasi petunjuk-petunjuk berpikir dan menganalisa sebagaimana yang diajarkan oleh Al-Qur'an
2. terlalu cepat merasa puas terhadap karya-karya para tokoh Islam terdahulu
3. menyuburnya 'gerakan-gerakan sufi yang hanya menyibukkan diri' dengan urusan-urusan ibadah
4. sifat malas yang seakan telah menjadi virus yang mengendap di tubuh masyarakat muslim
5. menipisnya rasa tanggungjawab sebagai khalifah Tuhan yang harus memakmurkan dan menyebarkan keadilan di muka bumi
6. memudarnya kebanggaan dan kecintaan terhadap kitab suci Al-Qur’an
7. terpengaruh budaya materialis
8. memudarnya solidaritas dan persatuan ummat Islam
9. dan lain sebagainya
Kesimpulannya: aktualisasi nilai-nilai Al-Qur’an tidak lagi menyeluruh.

Mencari Solusi
Sebahagian ummat Islam mencoba untuk keluar dari keterbelakangan dengan mengikuti jejak langkah Barat secara 100%. Namun ini bukanlah solusi yang tepat. Sebab Barat memisahkan agama mereka dari peradaban (sekulerisme). Mengikuti langkah mereka secara 100% hanyalah menghilangkan identitas peradaban Islam dan tetap memposisikannya di urutan belakang. Tapi bukan berarti ummat Islam harus menutup diri dari semua langkah Barat. Karena kita juga tidak memungkiri jika kemajuan Barat tidak lepas dari faktor nilai-nilai Al-Qur’an yang mereka aktualisasikan berupa kesungguhan, petunjuk-petunjuk berpikir dan riset yang sudah mereka kembangkan. Hanya saja karena mereka tidak merealisasikannya sesuai dengan tujuan, bimbingan dan nilai-nilai Al-Qur’an, mereka mengalami kesenjangan rohani dan dekadensi moral yang parah. Tidak jarang juga terjadi "ifsad fi al-ardh".
Kesimpulannya kalau ummat Islam ingin maju dengan warna keislamannya, maka ummat Islam harus kembali kepada nilai-nilai dan ajaran Al-Qur’an dan Hadits.
Wallahua’lam...
Selengkapnya...