Hukum Kawin Kontrak (Nikah Mut'ah) Menurut Islam

"Kawin kontrak itu asik," begitu yang terdetik di ruang khayal beberapa anak muda. Kenapa tidak? Dengan biaya dan tanggung jawab yang tidak berat, seorang laki-laki sudah bisa bersenang-senang dan memuaskan hawa nafsunya. Tapi tahukah mereka bagaimana hukum kawin kontrak dari sudut pandang agama? Mungkin ya mungkin juga tidak, itu sudah pasti. Biar lebih jelas, mari kita bahas.

Hukum Kawin Kontrak:
Para ulama Islam sejak dulu hingga sekarang sepakat atas haramnya kawin kontrak. Berikut ini saya petik di antara perkataan ulama-ulama Islam tentang kawin kontrak:

Perkataan Imam Ibnu Al Mundzir: "Pada masa awal Islam ada keringanan (bolehnya) kawin kontrak, tapi saat ini setahu saya tidak seorang pun yang membolehkannya kecuali sebahagian dari orang Syi'ah Rafidhah…."

Imam Al Khaththabi juga mengatakan: "Pengharaman nikah kontrak adalah sebuah ijma' (kesepakatan) kecuali oleh sebahagian orang Syi'ah. Pendapat mereka yang melegalkan kawin kontrak dengan alasan yang merujuk kepada Ali ra dan keluarganya tidak bisa diterima, sebab riwayat shahih yang bersumber dari beliau sendiri menunjukkan bahwa nikah kontrak telah dihapus.

Dasar hukum ijma' diharamkannya kawin kontrak bersumber dari dalil Al-Qur'an dan Hadits:

A. Dalil Al-Qur'an:
1. QS. Al-Mu'minun: 5-7:
"Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka, atau hamba-hamba sahaya yang mereka miliki; maka mereka tidak tercela. Tetapi barang siapa mencari di balik itu (zina dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas."

Wanita yang dikawini dengan cara kontrak bukanlah isteri yang sah. Dalam hubungan suami isteri yang sah ada hak saling mewarisi, berlaku ketentuan talak yang tiga jika dibutuhkan, demikian juga 'iddah ketika terjadi talak. Sementara dalam kawin kontrak itu tidak berlaku.
2. (QS. An-NIsa': 25)

"Dan barangsiapa di antara kamu yang tidak mempunyai biaya untuk mengawini wanita merdeka yang beriman, maka (dihalalkan mengawini wanita) hamba sahaya yang beriman yang kamu miliki… (hingga firman Allah:) Yang demikian itu (kebolehan mengawini budak) adalah bagi orang-orang yang takut terhadap kesulitan dalam menjaga diri (dari perbuatan zina). Dan jika kamu bersabar, itu lebih baik bagimu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Jika kawin kontrak boleh, tentu Allah SWT akan menjadikannya sebagai sebuah solusi bagi mereka yang tidak mampu dan takut terhadap perbuatan zina.

B. Dalil Hadits:
1. Rasulullah Saw bersabda: "Wahai manusia, dulu aku mengizinkan kalian untuk kawin melakukan kawin kontrak. Dan sesungguhnya Allah telah mengharamkannya hingga hari kiamat… (HR. Muslim).

2. Ali bin Abi Thalib berkata kepada Ibnu Abbas: " Pada saat perang Khaibar, Rasulullah Saw melarang nikah kontrak (mut'ah) dan (juga melarang) memakan daging himar yang jinak." (HR. Bukhari dan Muslim).

Dampak Negatif Kawin Kontrak
Dilarangnya kawin kontrak tidak terlepas dari dampak buruknya yang jauh dari kemaslahatan ummat manusia, di antaranya:

1. Penyia-nyiaaan anak. Anak hasil kawin kontrak sulit disentuh oleh kasih sayang orang tua (ayah). Kehidupannya yang tidak mengenal ayah membuatnya jauh dari tanggung jawab pendidikan orangtua, asing dalam pergaulan, sementara mentalnya terbelakang. Keadaannya akan lebih parah jika anak tersebut perempuan. Kalau orang-orang menilainya sebagai perempuan murahan, bisakah dia menemukan jodohnya dengan cara yang mudah? Kalau iman dan mentalnya lemah, tidak menutup kemungkinan dia akan mengikuti jejak ibunya.

2. Kemungkinan terjadinya nikah haram. Minimnya interaksi antara keluarga dalam kawin kontrak apalagi setelah perceraian, membuka jalan terjadinya perkawinan antara sesama anak seayah yang berlainan ibu, atau bahkan perkawinan anak dengan ayahnya. Sebab tidak ada saling kenal di antara mereka.

3. Menyulitkan proses pembagian harta warisan. Ayah anak hasil kawin kontrak – lebih-lebih yang saling berjauhan – sudah biasanya sulit untuk saling mengenal. Penentuan dan pembagian harta warisan tentu tidak mungkin dilakukan sebelum jumlah ahli waris dapat dipastikan.

4. Pencampuradukan nasab lebih-lebih dalam kawin kontrak bergilir. Sebab disini sulit memastikan siapa ayah dari anak yang akan lahir.

Setelah melihat sumber dari Al-Qur'an dan Hadits serta sudut pandang maslahat dan mudrat kawin kontrak, dapat kita simpulkan bahwa kawin kontrak tidak diperbolehkan di dalam ajaran agama Islam.
Wallahu a'lam…


Baca Juga :
- Bukti Kerasulan Nabi Muhammad saw
- Arti Allah SWT
- Allah dalam Sejarah Arab
- Perang dan Jihad dalam Islam
- Benarkah Islam Melegalkan Perang Terhadap Orang-orang Kafir?
- Benarkah Islam Memaksa Orang Lain Masuk Islam?
- Adakah Jaminan Keselamatan dalam Islam?
Selengkapnya...

Gambar dan Video Manusia Terkuat di Dunia

Mustahil…! Kesan semacam itu sering terlintas di pikiran banyak orang saat menonton film Hulk, Samson, Incredible atau film-film lainnya yang menggambarkan manusia super power. Tidak pernah menyaksikan di depan mata tentu saja faktor utama timbulnya kesan tersebut.
Bagaimana kalau sosok manusia super power ini muncul di depan mata Anda secara tiba-tiba lalu mengangkat manusia paling gemuk dengan sebelah tangannya? Tercengang dan takjub, itu yang akan terjadi pada Anda. Tapi, tidak demikian pada keluarga Sayyid Muhammad Ahmad Abdallah, mereka sudah terbiasa hidup bersama manusia super power dan menyaksikan kekuatannya.
Hasil tes kedokteran mengungkapkan bahwa kekuatan Sayyid Muhammad menyeimbangi 260 kekuatan kuda atau setara dengan 30.000 kekuatan manusia biasa. Jadi tidak heran jika dia mampu mengangkat berat 70 ton, "menyobek" koin uang dengan jemari tangan, bahkan membengkokkannya dengan mata atau giginya.
Sayyid Muhammad ternyata bukan satu-satunya orang Mesir modern yang dikaruniai kekuatan super, ayahnya malah mempunyai kekuatan yang lebih dahsyat. "Ayah saya juga mempunyai kekuatan super. Saya punya 260 kekuatan kuda, sedangkan beliau memiliki 840 kekuatan kuda. Saya memperolehnya dari beliau." Ungkapnya kepada reporter Memri TV dalam sebuah wawancara khusus pada Agustus 2007 yang lalu.
Kekuatan Sayyid Muhammad tidak hanya sampai disitu, dalam wawancara tersebut dia mengungkapkan kemampuan seksnya yang mencengangkan setiap orang. "Saya harus rutin berhubungan seks 15 kali sehari?" katanya.
"Kok bisa!?" Tanya seorang reporter terkejut.
"Itu pemberian Tuhan," jelasnya, "makanya saya harus mempunyai 4 orang istri, kalau hanya satu tidak bisa"

Ada lagi yang membuat semua orang hampir tak percaya, Hercules abad 21 yang dikaruniai 35 anak ini tidak pernah tidur sepanjang hayatnya.

Meski Sayyid Muhammad mempunyai kelebihan berupa kekuatan yang luar biasa, namun itu tidak membuatnya menjadi manusia yang arogan. Tutur kata, sikap, dan sifatnya justru menunjukkan dan mengajak setiap orang kepada sifat rendah hati dan ramah yang bukan hanya kepada manusia, tapi juga kepada Sang Pencipta.

Nah, biar lebih jelas dan puas, monggo langsung lihat videonya:



Baca Juga :
- Manusia Terkecil di Dunia
- Bukti Kerasulan Nabi Muhammad saw
- Arti Allah SWT
- Allah dalam Sejarah Arab
- Hukum Kawin Kontrak dalam Islam
- Sujud Sajadah; Pengertian, Dalil, Bacaan dan Ayat-ayatnya
- Perang dan Jihad dalam Islam
- Benarkah Islam Melegalkan Perang Terhadap Orang-orang Kafir?
- Benarkah Islam Memaksa Orang Lain Masuk Islam?
- Adakah Jaminan Keselamatan dalam Islam?
Selengkapnya...

Al-Qur'an Katanya Keren, Tapi Kok Ummatnya Terbelakang?

Al-Qur’an memang sangat unik. Tidak ada kitab referensi agama yang sekomplit Al-Qur’an. Isinya tidak hanya menjelaskan masalah ke-Tuhan-an dan urusan ibadah. Al-Qur’an, selain berisi petunjuk keimanan juga mengandung petunjuk kehidupan yang universal; urusan pakaian, makanan, pergaulan dan etikanya, undang-undang sipil dan negara, petunjuk-petunjuk ilmiah, dan lainnya.
Namun dari sini kemudian timbul pertanyaan; Kalau memang Al-Qur’an sekomplit itu, lalu mengapa negara-negara yang mayoritas berpenduduk ummat Islam tidak lebih maju dari negara-negara lain? Mengapa IPTEK mereka terbelakang?
Untuk mengetahui faktor keterbelakangan ummat Islam, saya akan menjawab dari dua sisi; Pertama faktor dari luar, dan yang kedua faktor dari dalam Islam sendiri.
Namun sebelum membahas faktor keterbelakangan ini, agaknya perlu kita hilangkan anggapan bahwa ummat Islam selalu menempati posisi terbelakang. Karena itu mari sejenak kembali ke sejarah. Sejarah telah mencatat bahwa peradaban Islam pernah memimpin 2/3 dunia selama berabad-abad, mulai dari Indonesia Timur hingga daratan Andalusia (sekarang Spanyol); bangunan-bangunan megah peninggalan dinasti-dinasti Islam di India, Pakistan, mesjid pertama di Cina, Damaskus, Bagdad, Cairo, Spanyol, dan lain sebagainya merupakan sedikit di antara bukti kemajuan peradaban Islam jaman dahulu.
Dalam sejarah peradaban ummat Islam yang berabad-abad itu, ilmu pengetahuan dan sains digalakkan. Ribuan tokoh muslim lahir menyeka kegelapan dengan cahaya ilmu pengetahuan. Avisenna hadir dengan filsafat dan ilmu kedokterannya, Ibnu Batutah dengan catatan penjelajahan dunianya sebelum Cristoper Colombus, Al-Jabar dengan teori matematika Aljabarnya, Averose dengan pemikiran dan filsafatnya, dan lain sebagainya.
Puncak kejayaan ilmu pengetahuan terjadi pada masa pemerintahan khalifah Harun Ar-Rasyid dari dinasti Abbasiyah.
Melihat kemajuan ini, raja-raja Eropa merasa tertarik untuk mengutus delegasi-delegasi pelajarnya ke Cordova, pusat dinasti Islam di Spanyol saat itu. Prancis misalnya, pernah mengutus 700 pelajar ke Cordova. Sehingga Eropa yang ‘gelap’ pun menjadi tercerahkan. Dari sini lahirlah semangat renaisens yang menjadi spirit kebangkitan Eropa pada fase-fase berikutnya secara bertahap.
Namun sayangnya, setelah Eropa keluar dari kegelapan, ummat Islam disapu bersih dari daratan Spanyol. Tidak sampai disitu, mereka juga melakukan ekspansi ke dunia timur termasuk negara-negara mayoritas muslim seperti Indonesia untuk tujuan 3 G; Gospel (penginjilan), Gold (emas dan kekayaan) dan Glory (kejayaan). Nah, disini Eropa tidak melakukan pencerahan sebagaimana yang dilakukan oleh dinasti Islam di Eropa sebelumnya. Justru yang sering terjadi adalah praktek kerja paksa, pembodohan, adu domba antar penguasa, menutup perhatian terhadap pendidikan, dan lain-lain.
Tentu saja ini semua menghambat pola pikir dan kemajuan dunia timur.

Kembali ke faktor keterbelakangan ummat Islam tadi.
Pertama, faktor dari luar. Dari penjelasan singkat di atas dapat kita ambil satu poin faktor keterbelakangan ummat Islam, yaitu ekspansi Eropa ke dunia Timur Islam.
Selain Eropa, pasukan Mongol di bawah pimpinan Jengis Khan juga pernah melakukan ekspansi besar-besaran ke pusat dinasti Abbasiyah di Bagdad.
Dalam ekspansi besar-besaran ini, terjadi pembakaran buku-buku karya ilmiyah yang sangat bernilai dalam peradaban ummat Islam. Karena banyaknya buku-buku yang dibakar ini, sampai-sampai ada yang mengatakan sungai Efrat berubah menjadi warna tinta.
Faktor yang kedua, dari dalam Islam sendiri. Perlu dicermati bahwa kebangkitan ummat Islam pada jaman dahulu tidak lain karena mereka mengaktualisasikan nilai-nilai ajaran Al-Qur’an dan Hadits secara komprehensif. Ajaran Al-Qur’an tidak diambil setengah-setengah. Motivasi belajar, mengajar dan berpikir, petunjuk-petunjuk ilmiah, nilai keadilan dan kebaikan, perintah dan larangannya, tuntunan ibadahnya, semuanya mereka aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Sangat berbeda dengan fenomena ummat Islam sekarang yang sudah semakin jauh dari Al-Qur’an dan Hadits. Nilai-nilai Al-Qur’an yang menjadi faktor pendukung kemajuan peradaban dan IPTEK telah banyak yang luput dari perhatian. Mereka sudah lebih condong untuk memperhatikan nilai-nilai ajaran Al-Qur’an dari sisi ibadah. Sehingga Al-Qur’an sering terkesan hanya sebagai kitab ibadah yang berhubungan dengan Tuhan saja.
Lebih spesifiknya tentang faktor keterbelakangan ummat Islam dari dalam adalah sebagai berikut:
1. melemahnya aktualisasi petunjuk-petunjuk berpikir dan menganalisa sebagaimana yang diajarkan oleh Al-Qur'an
2. terlalu cepat merasa puas terhadap karya-karya para tokoh Islam terdahulu
3. menyuburnya 'gerakan-gerakan sufi yang hanya menyibukkan diri' dengan urusan-urusan ibadah
4. sifat malas yang seakan telah menjadi virus yang mengendap di tubuh masyarakat muslim
5. menipisnya rasa tanggungjawab sebagai khalifah Tuhan yang harus memakmurkan dan menyebarkan keadilan di muka bumi
6. memudarnya kebanggaan dan kecintaan terhadap kitab suci Al-Qur’an
7. terpengaruh budaya materialis
8. memudarnya solidaritas dan persatuan ummat Islam
9. dan lain sebagainya
Kesimpulannya: aktualisasi nilai-nilai Al-Qur’an tidak lagi menyeluruh.

Mencari Solusi
Sebahagian ummat Islam mencoba untuk keluar dari keterbelakangan dengan mengikuti jejak langkah Barat secara 100%. Namun ini bukanlah solusi yang tepat. Sebab Barat memisahkan agama mereka dari peradaban (sekulerisme). Mengikuti langkah mereka secara 100% hanyalah menghilangkan identitas peradaban Islam dan tetap memposisikannya di urutan belakang. Tapi bukan berarti ummat Islam harus menutup diri dari semua langkah Barat. Karena kita juga tidak memungkiri jika kemajuan Barat tidak lepas dari faktor nilai-nilai Al-Qur’an yang mereka aktualisasikan berupa kesungguhan, petunjuk-petunjuk berpikir dan riset yang sudah mereka kembangkan. Hanya saja karena mereka tidak merealisasikannya sesuai dengan tujuan, bimbingan dan nilai-nilai Al-Qur’an, mereka mengalami kesenjangan rohani dan dekadensi moral yang parah. Tidak jarang juga terjadi "ifsad fi al-ardh".
Kesimpulannya kalau ummat Islam ingin maju dengan warna keislamannya, maka ummat Islam harus kembali kepada nilai-nilai dan ajaran Al-Qur’an dan Hadits.
Wallahua’lam...
Selengkapnya...

Kisah Salman Al Farisi dalam Mencari Kebenaran

Salman, seorang pemuda berkebangsaan Persia merasa kagum melihat ritual ibadah orang-orang Kristen (Nasrani) di gereja. "Sungguh, ini lebih baik dari agama kami," ucapnya dalam hati.

Begitu tertariknya dia dengan ritual ibadah tersebut, dengan senang hati dia menyaksikannya hingga selesai dan berdialog dengan mereka hingga matahari terbenam. Sementara orang tuanya di rumah sudah lama menunggu dengan was-was. Hatinya bertanya-tanya, kenapa anak kesayangan yang selama ini dia jadikan seperti gadis pingitan itu tidak juga kembali.

Setelah hari gelap, dia kembali ke rumah. Langsung saja orang tuanya menginterogasinya. Karena khawatir anaknya murtad dari agama Majusi, dia merantai kaki dan mengurungnya di rumah. Saat mendengar kabar adanya rombongan kafilah
Kristen yang akan bertolak ke Syam, dia berhasil melepaskan diri dan berangkat bersama mereka.

Setiba di Syam dia bertanya, "Siapa orang
Kristen yang paling tahu agama disini?"
"Uskup," jawab mereka.

Dengan segera dia menemuinya dan mengungkapkan keinginannya untuk menjadi pemeluk agama
Kristen, pelayan gereja dan murid sang uskup. Tapi ternyata… orang yang dia tuju bukanlah orang yang dia impikan. Si uskup bukanlah orang yang taat sepenuhnya kepada agama Kristen. Dia menganjurkan dan menyuruh orang-orang untuk bersedekah. Setelah sedekah banyak terkumpul, termasuk di antaranya emas dan perak, dia menyimpannya untuk diri sendiri tanpa pernah membagikannya kepada orang-orang miskin. Dengan spontan rasa senang dan cintanya kepada uskup berubah derastis menjadi benci.

Ketika sang uskup meninggal dunia, kepada para pelayat Salman membeberkan kejelekan si uskup dan menunjukkan harta simpanannya. Amarah mereka naik, mereka menyalib mayat si uskup dan melemparinya dengan batu.

Setelah pengganti uskup dilantik, Salman tetap mengabdi pada gereja. Uskup yang sebelumnya sangat berbeda dengan baru ini; budi pekertinya baik, sangat senang beribadah, dan mencintai kehidupan akhirat. "Aku sangat mencintainya, tidak ada orang yang lebih kucintai dari dia sebelumnya," kata Salman.

Hingga suatu saat, Salman merasa sedih. Uskup yang dia senangi itu harus menyampaikan pesan terakhirnya kepadanya, "Manusia telah rusak, mereka telah merubah dan meninggalkan kebanyakan ajaran agama mereka. Demi Allah, setahu saya tidak ada orang yang sejalan dengan saya saat ini kecuali seorang pria yang bertempat tinggal di wilayah Mosul, namanya fulan," kata sang uskup.

Sesudah uskup meninggal, dia pun bertolak ke Mosul mencari orang yang disebutkan oleh uskupnya. Namun di sela-sela pengabdiannya ini, pria itu meninggal dunia, sehingga pengabdiannya harus berpindah lagi ke pendeta lain.

Begitulah Salman, hidupnya selalu berpindah-pindah dari satu pendeta ke pendeta yang lain. Dan setiap para pendeta yang mengasuhnya mendekati ajal, dia selalu meminta nasehat dan wasiat; kepada siapa dia harus pergi dan mengabdi sepeninggal mereka.
Hingga suatu saat Salman pun sampai di Umuria, sebuah wilayah kekuasaan Romawi Timur. Disini dia juga mengabdi kepada seorang pendeta sambil bekerja hingga dia memiliki sapi dan kambing. Disini, kesedihan yang sudah sering dia rasakan di akhir hayat para pengasuhnya kembali terulang. Sebelum meninggal, si pendeta
berwasiat: "Anakku, saya tidak tahu kepada siapa engkau harus pergi sesudahku. Sebab saya tidak tahu ada orang yang sejalan dengan kita. Tapi sekarang ini sudah tiba masa seorang nabi yang diutus untuk melanjutkan agama Ibrahim. Dia lahir di tanah Arab dan akan hijrah ke sebuah tempat yang terletak di antara dua gunung berbatu. Di tempat ini ada pepohonan kurma. Nabi itu mempunyai ciri-ciri yang jelas; dia makan hadiah tetapi tidak makan sedekah, di antara dua pundaknya ada tanda kenabian. Jika engkau sanggup pergi kesana, pergilah."

Salman merasa kehilangan lagi. Dia habiskan hari-harinya menunggu kafilah yang datang dari wilayah Jazirah Arabia, hingga suatu saat beberapa orang pedagang datang ke Umuria. Dengan imbalan sapi dan kambing yang dia miliki, mereka membawanya ke Jazirah Arabia. Namun malangnya, Salman ditipu. Mereka menjualnya dengan status budak ke seorang Yahudi. Di pemukiman Yahudi yang sudah menjadi tuannya ini, dia dijual lagi ke Yahudi lain yang datang dari kota Yatsrib. Betapa senang hatinya, ternyata dia telah sampai ke tempat yang disudah ditujunya, yang dia kenal lewat cerita seorang pendeta.

Waktu demi waktu telah berlalu, namun kabar seorang nabi yang dia tunggu-tunggu tak kunjung datang juga. Statusnya sebagai seorang budak yang selalu sibuk mengerjakan perintah tuannya semakin menjauhkan dia dari berita seorang nabi di Makkah yang sudah mulai ramai dibicarakan masyarakat Yatsrib.

Pada suatu hari, ketika Salman sedang memanjat pohon kurma, dia mendengar tuannya bersama saudaranya membicarakan orang-orang yang keluar menuju Quba’ untuk menyambut kedatangan seorang pria yang mereka yakini sebagai nabi. Hati Salman bergetar, hampir-hampir dia jatuh menimpa tuannya. Lalu dia turun, "Kau cerita apa tadi? Cerita apa tadi?" tanyanya kepada saudara tuannya meyakinkan kebenaran berita itu. Sebelum pertanyaannya dijawab, tangan tuannya memukulnya dengan keras.

"Perlu apa sih?! Teruskan pekerjaannya!" bentak tuannya.

"Tidak ada apa-apa kok. Hanya ingin menguatkan kebenarannya saja" jawabnya.
Sore harinya, Salman diam-diam mengambil makanan yang dia simpan lalu pergi ke Quba’ untuk menemui orang yang dia yakini sebagai nabi yang ditunggu-tunggu.

"Saya dapat kabar bahwa Anda ini adalah orang saleh dan mempunyai sahabat asing yang membutuhkan. Ini ada sedikit sedekah dari saya. Saya pikir kalian lebih berhak menerimanya." kata Salman sambil mengulurkan makanan yang dia bawa.

"Silahkan dimakan" kata nabi itu kepada sahabat-sahabatnya, sementara dia sendiri tidak memakannya.

"Satu" kata Salman di dalam hati.

Dia pulang dan mengumpulkan makanan lagi. Ketika nabi itu sudah tiba di Yatsrib, dia menemuinya lagi, "Dulu saya melihat Anda ini tidak makan sedekah. Ini ada hadiah sebagai persembahan saya untuk Anda?" katanya.

Nabi itu lalu memakannya dan menyuruh para sahabatnya untuk ikut makan.

"Dua" kata Salman dalam hati.

Kemudian, dia datang lagi menemui sang nabi untuk yang ketiga kalinya. Kali ini dia menemuinya di Baqi’, saat nabi mengantar jenazah ke pemakaman. Ketika nabi duduk, Salman pergi ke belakangnya untuk melihat tanda kenabian yang ada di antara dua pundaknya sebagaimana yang disebutkan dahulu oleh pendeta Umuria kepadanya. Ketika nabi melihat dan mengetahui tingkah Salman, dia menanggalkan pakaian yang menutupi punggungnya. Salman tertegun melihat sebuah tanda kenabian. Dia menciumnya. Tak kuasa dia menahan tangis.

"Menghadaplah ke depanku" kata nabi.

Salman menghadap, lalu menceritakan kisah perjalanannya kepada Rasulullah Muhammad Saw.
***

Salman, dikenal oleh para sahabat Rasulullah Saw dan orang-orang sesudahnya dengan nama Salman Alfarisi. Untuk menebus dirinya dari perbudakan, dia harus menanam dan menghidupi 300 bibit kurma untuk tuannya ditambah 40 uqiyah emas (kira-kira 1190 gram emas). Lalu nabi Muhammad Saw menyuruh para sahabatnya untuk membantunya menurut kemampuan masing-masing. Beliau sendiri ikut membantunya dengan menanam pohon kurma dan memberikan emas.

Salman Alfarisi mempunyai peranan yang sangat besar dalam perang Khandaq berkat idenya untuk menggali parit penahan musuh.

*) Kisah di atas disarikan dari Sirah Nabawiyah Ibnu Katsir dan Sirah Ibnu Hisyam.
Selengkapnya...